Perjuangan seorang penjual sayur di tengah pandemic COVID-19.

Perjuangan seorang penjual sayur mendukung anaknya yang sedang kuliah di Indonesia ditengah pandemic COVID-19.

Para pelajar Timor-Leste yang kuliah keluar negeri semakin hari semakin bertambah, mereka pada umumnya adalah pelajar yang melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri maupun juga sebagian mendapatkan beasiswa. Mereka tentunya dengan suatu harapan bahwa belajar keluar negeri adalah tujuan utama untuk menggarap ilmu yang lebih banyak dan juga memperoleh pengalaman akademik maupun pengalaman dari masyarakat setempat. Selain itu, ada alasan lain, yaitu mungkin karena keterbatasan perguruan tinggi di dalam negeri. Memang lembaga pendidikan tinggi, akademik dan universitas dalam negeri terbatas di Timor-Leste, yang semuanya tersentralistik di pusat kota, di Dili. Jadi kedua faktor menjadi alasan membuat banyak para remaja Timor-Leste memilih untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Alasan lainnya berasal dari faktor, geografis yang mana negara Indonesia adalah tetangga yang sangat dekat, selain itu adalah faktor biaya hidup yang murah, akses ke universitas gampang, dan faktor komunikasi, yang mana bahasa Indonesia mudah dipahami  oleh mayoritas penduduk Timor-Leste.

Dari jumlah mahasiswa ke luar negeri, dalam observasi saya, banyak mahasiswa yang memilih kuliah di Indonesia, sesuai dengan salah satu data yang diakses dalam website sindonews bahwa misalkan pada tahun 2013 jumlah mahasiswa yang terdaftar kuliah di Indonesia telah mencapai 6000 orang. Data ini menunjukan bahwa dari segi kwantitas, memang terbukti jumlahnya banyak. Mungkin pada saat ini, jumlah mahasiswa sudah bertambah banyak yang kuliah di Indonesia. Secara kenyataan ketertarikan kuliah di Indonesia dapat dikatakan bahwa mungkin alasan-alasan yang telah saya paparkan diatas menjadi faktor utama bagi para mahasiswa Timor-Leste Untuk memilih Indonesia sebagai tujuan negara menimba ilmu.

Selain dari alasan kenapa kuliah di Indonesia, dalam artikel pendek ini, lebih fokus dalam membahas tentang bagaimana hubunganya para orang tua sebagai pendukung finansial, mensupport anaknya kuliah di Indonesia. Dalam hemat saya, mayoritas mahasiswa yang kuliah di Indonesia adalah berasal dari keluarga yang mungkin memiliki penghasilan yang cukup dan juga ada beberapa mahasiswa yang orangtuanya pas-pasan, berpenghasilan dari hasil aktivitas swasta, penjual sayur, penjual bahan-bahan grosir dan eceran di pasar.

Para mahasiswa yang kuliah di Indonesia dengan biaya sendiri mungkin akan mendapatkan tantangan pada situasi sekarang. Bagi para pelajar yang orang tuanya bekerja di bidang swasta, khususnya, seorang penjual sayur. Dengan situasi di tengah pandemik penyakit COVID-19 yang ditakuti ini, secara nyatanya mempengaruhi segala aktivitas masyarakat, khususnya bagi orang-orang yang bekerja dibidang wiraswasta dengan skala mikro yang menopang dan mendukung anak-anaknya kuliah di luar negeri, dalam hal ini kita fokus ke Indonesia.

Bagi mahasiswa yang pada saat ini tengah kuliah di Indonesia, memang sebagian besar sudah kembali; tetapi sebagian besar mungkin memilih untuk tinggal di Indonesia karena alasan mungkin membutuhkan biaya yang lebih banyak datang ke Timor-Leste atau mungkin mereka masih mengikuti proses belajar yang mana di Indonesia masih diwajibkan mengikuti kuliah secara online dari kampus mereka masing-masing.

 Bagi mereka yang memilih tinggal di negara lain dalam hal ini (di Indonesia), dalam pengamatan dan pengalaman saya yang dulu juga pernah kuliah di Indonesia (mengalamai situasi yang sama pada era krisis militer Timor-Leste 2006), saya mengasumsi bahwa pastinya para mahasiswa yang memilih tinggal di Indonesia mengalami tantangan besar. Disini saya hanya fokus di Indonesia (tetapi mugkin hal yang sama di negara lain), untuk teman-teman mahasiswa yang  melanjutkan kuliahnya dengan biaya orang tua, lebih spesifik kepada orang tua yang memiliki pekerjaan di usaha wiraswasta dengan skla mikro: grosir, eceran, penjualan barang-barang di pasar, atau yang menjual sayur-sayuran di pasar. Hal ini menarik untuk memfokuskan pembahasan kepada mereka.

Dengan sengaja memilih mahasiswa dengan penghasilan orang tuanya yang tergantung pada penghasilan jualan dipasar, atau bagi mereka yang tergantung pada jualan grosir dan eceran sayuran menjadi unik. Ditengah situasi seperti ini, kondisi negara dalam keadaan emergensi (COVID-19), semua aktivitas kegiatan bisnis terhambat. Di Timor-Leste, walaupun pemerintah mengizinkan agar proses penjualan dan pembelian bahan sembako di pasar masih tetap berjalan, namun hal ini tidak menjamin bahwa semua aktivitas berjalan normal sesuai dengan situasi sebelumnya.

Putusnya mata rantai penjualan dan dampaknya kepada penghasilan para penjual eceran

Saya mengambil contoh misalkan para penjual sayur-sayuran, mereka adalah penjual grosir dan eceran yang menjual sayur dari suplai para petani dari pedesan. Dan ada terlihat beberapa minggu, di salah satu supermarket sayur-sayuran telah ditutup, menurut informasi bahwa para petani hortikultura telah berhenti menyuplai hasil sayur mereka karena kondisi kepanikan COVID-19. Hal ini menunjukan bahwa, jika mata rantai suplai sayuran berhenti maka aktivitas penjualan sayur di pasar akan menurun, selain itu dengan situasi negara dalam keadaan emergensi hal ini membuat banyak orang tidak akan datang ke pasar melakukan aktivitas seperti dengan hari-hari normal. Kondisi seperti ini memposisikan para penjual sayur dan penjual barang-barang hasil grosir dan eceran lainya mengalami kemerosotan pendapatan mereka.

Ilustrasi dari faktor penghasilan yang merosot, dengan situasi yang terjadi antara suplai dan pembeli menjadi suatu kondisi ril ditengah masyarakat. Dan kondisi negara dalam keadaan emergensi untuk mencegah penyebaran COVID-19 memang dalam satu  sisi adalah cara preventif yang layak digunakan untuk keselamatan semua warga negara namun disisi lain memiliki dampak besar kepada para pelaku bisnis, khususnya bisnis kecil, penjual grosir dan eceran sayur-mayur di pasar. Hal ini tentunya memberikan dampak besar kepada keluarganya. Khususnya untuk bagi yang pada saat ini dengan penghasilan keluarga mendukung proses kuliah keluarga dan anak-anaknya di jenjang perguruan tinggi di Indonesia.

Lantas, jika situasi yang diilustrasikan diatas ini, khususnya seorang ibu atau bapak yang memiliki mata pencaharian dari aktivitas ekonomi dengan skala kecil, dalam hal ini sebagai penjual sayur. Apa dampaknya kepada perekonomian keluarga, bagaimana seorang anak yang pada saat ini tengah melanjutkan kuliah di luar negeri, pada saat ini mengharapkan agar orang tuanya mengirim uang untuk bertahan hidup, dan untuk membayar biaya kuliah atau biaya lainnya.

Tulisan pendek ini adalah sebuah refleksi dimana, mungkin diluar sana, bagi teman-teman yang sedang kuliah di negara lain mengalami masalah finansial yang sama. Mungkin pada saat ini tidak memiliki kecukupan finansial untuk bisa bertahan hidup di tengah situasi pandemic COVID-19. Lantas apa yang harus kita lakukan, apakah ada solidaritas dari teman-teman untuk mencari solusi seperti ini. Saya kira negara mungkin bisa melakukan apapun untuk kepentingan masyarakat, warga negaranya. Buktinya pada saat ini, semua orang, warga negara, setiap rumah tangga mendapatkan subsidi listrik sebesar 15$. Tetapi kita tidak akan mungkin menuntut dan meminta negara untuk melihat kondisi kita seperti ini, yang kita harapkan adalah solidaritas semua orang, bahwa diluar sana masih ada teman-teman yang hidup sengsara, menderita akibat dari situasi pandemic COVID-19 yang melanda di negara kita masing-masing.

Mari kita melakukan refleksi, membangun solidaritas terhadap semasa masyarakat Timor-Leste. Dari sini kita belajar bahwa masalah yang kita hadapi bersifat kolektif. Kita akan membangun empati terhadap sesama umat manusia. Melalui refleksi ini mungkin kita tidak akan membandingkan, memandang sebelah mata teman-teman kita yang ada di Timor-Leste maupun yang berada di luar negeri, yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang.

The narrative of this article illustrates the real condition of a parent who is surviving and finding a solution to support their children who are currently studying in Indonesia country. The situation of the country's health condition, which is presently in a state of emergency due to (COVID-19), makes everyone panic, scare. In these situations, it might be a bitter situation or disaster in a micro-scale business level; primarily wholesalers, retailing groceries cannot carry out their normal activities. Especially for the seller of vegetables, all the supplies have stopped their products from rural areas, and they are reluctant about going to the market; they just stay home. Thus this situation reveals a substantial impact on small communities who depend on wholesale and retail livelihoods in the market.
For those parents who may currently their livelihood or income depend on vegetable sellers are in a critical situation of the downturn; then who will support their children who are studying in other countries, in Indonesia?
This paper illustrates a real condition experienced by a parent (vegetable seller) in COVID-19, how they find solutions to support their children who are studying in Indonesia.
This article is intentionally written in Indonesian so that fellow Timorese, friends whoever studying in Indonesia could read. And maybe they can also tell their life experiences in difficult times like this, or their previous life experiences in 2006, when the military crisis occur in Timor-Leste, how that situation affected their study.
Maybe through a short story like this, we will build solidarity with the people of Timor-Leste. From this, we learn that the pandemic disease (COVID-19) that we face is a collective problem. We will build empathy for our fellow human beings. Through this reflection, we might not compare, look down others, and discriminate against our friends who are in Timor-Leste or those who are out of Timor-Leste, who are studying abroad.

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: