Politik U-Boot dan “Lei Defamasaun”: Ekspresi masa bodoh seorang politikus

Di Timor-Leste sering muncul bahasa gaul dikalangan para remaja maupun anak-anak, misalkan kata “U-Boot” adalah bahasa gaul baru dalam percakapan sehari-hari, kata ini biasanya sengaja dipilih oleh kaum muda sebagai bahasa ucapan populer dengan gaya milenial di Timor-Leste untuk memberikan reaksi apatis. Kata ini secara harfiah diambil dari bahasa Indonesia, “Urusan” ditambah dengan “boot” dalam Bahasa Tetum. Maknanya adalah untuk menggambarkan seseorang memberi reaksi verbal secara negatif atau dengan respons apatis, masa bodoh, persetan, I dont care.

Mengenai kata apatis ini, saya bingung tapi juga sangat tertarik ketika suatu waktu saya berada dirumah saudara, pada saat itu ada anak-anak sekitar 14-16 tahun, dalam bahasa tetum saya panggil mereka”subrinu” (keponakan). Pada saat itu, ketika berada di tengah-tengah orang tua mereka, dan ketika orang tua dari anak-anak tersebut menyuruh salah satu anak lelaki yang panggilan akrabnya adalah Abere (nama samaran) untuk membeli kopi di kios tetangga, kata ibunya dalam Bahasa tetum ”Abere ba kiosk sosa kafe mai halo onia tiu hodi hemu” setelah membawa kopi, ibunya menyuruh lagi “bisakah kamu bikin kopi buat om-mu” anak itu menjawab ibunya dengan kalimat dalam tetum“hau lahatene halo kafe”(saya tidak bisa bikin kopi) ibunya bertanya lagi kenapa, dan anak itu menjawab “nee U-Boot “. Sang ibu menyuruh anak itu untuk membuat kopi, dan anak itu menjawab pertanyaan ibunya dengan nada apatis ” nee U Boot”, ini adalah tanda penolakan atau reaksi kesal menjawab pertanyaan atau masa bodoh dengan omongan ibunya.

Terlepas dari kisah sang ibu dan anak diatas, cerita pendek diatas menggambarkan kata U-boot ternyata telah menjadi kebiasaan bagi para remaja dan anak-anak kecil di Timor-Leste. Bukan hanya itu, tetapi juga dalam percakapan formal cenderung digunakan oleh masyarakat dengan interpretasi dan lelucon atau niat yang berbeda. Memang jelas bahwa istilah kata tersebut melambangkan reaksi apatis, penolakan dan ketidaktaatan. Sekarang jika kita melihat kasus anak dan sang ibu diatas, sang anak menolak perintah ibunya dan menjawab dengan respons penolakan. Ini adalah salah satu contoh sikap negatif yang ditanggapi anak terhadap ibunya,

Istilah U-Boot memang menarik bagi saya, karena ia berasal dari bahasa Indonesia yang diadopsi ke dalam istilah tetum yang bersifat konsumsi sehari-hari oleh masyarakat Timor-Leste, dan memiliki substansi yang berbeda, atau tidak peduli, atau reaksi negatif dari suatu percakapan. Lebih jauh, saya menulis artikel ini untuk menggambarkan bahwa istilah “U-boot” juga telah mulai berkembang menjadi kosa kata dalam ranah politik di Timor-Leste.

U-boot dalam politik, misalnya, menteri kehakiman Timor-Leste dalam pernyataannya di beberapa media massa di minggu ini (minggu ke dua bulan July 2020), ia memberikan pernyataan politik dengan menanggapi opini publik dan komentar dari sejumlah aktivis Timor Leste dan mahasiswa yang menolak rancangan undang-undang pencemaran nama baik. Menteri tersebut bersikeras dengan kata “U-boot”, kata ini menjadi headline pada judul salah satu media cetak dan online yang saya baca. Sang menteri dalam Journal tersebut memperjelas kedudukannya bahwa ia tetap melanjutkan rancangan undang-undang dengan mengkriminalkan Undang-Undang Pencemaran Nama Baik meskipun mendapatkan reaksi protes dengan isu adanya demonstrasi.

Terlepas dari kata “U-boot” dari menteri, sampai sekarang alasan untuk mengkriminalkan UU Pencemaran Nama Baik belum jelas argumennya. Pemerintah melalui kementerian kehakiman hanya beralasan bahwa “meng-kriminalisasi pencemaran nama baik adalah untuk mendidik dan menghukum” para pelaku yang mencemarkan baik dan mengkritik siapapun tanpa bukti. Selanjutnya, sampai sekarang publik tidak mendapatkan argumen tertulis atau dokumen resmi dari pemerintah untuk menanggapi opini publik tentang undang-undang pencemaran nama baik.

Para aktivis, mahasiswa, pengamat politik, dan pembela hak asasi manusia sudah hampir tiga bulan melakukan protes dalam bentuk tulisan, opini publik melalui media cetak dan elektronik, termasuk membuat surat protes ke pemerintah. Selain itu, bahkan pemenang Nobel Perdamaian Ramos Horta dengan jelas mengatakan bahwa pemerintah hanya “membuang-buang waktu untuk mengkriminalkan undang-undang pencemaran nama baik yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia” pemerintah harus telah membuat undang-undang lain lebih bermanfaat bagi kepentingan rakyat Timor-Leste.

Meskipun perdebatan tentang hukum pencemaran nama baik (Kriminaliza lei defamasaun) telah berlangsung sejak pemerintah merancang amandemen dari hukum perdata menjadi pidana. Hingga saat ini belum ada solusi dan tanggapan argumentatif dari Kementerian Kehakiman Timor-Leste. Namun, yang kita saksikan adalah kata “U-boot” sebagai tanggapan dari menteri kehakiman yang juga merupakan promotor “lei defamasaun” lalu apa kata publik? Apakah ini pertanda ketidakmampuan berpikir kritis? Atau apakah pemerintah hanya sengaja menciptakan kekacauan publik dengan politik “lei defamasaun” sebagai retorika politik?

Celso, Dili, Timor-Leste. 18/7/2020

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: