Matinya Tradisi Rata Lolo di komunitas Tutuala

Judul tulisan ini menjadi inspirasi ketika saya melirik kembali situs web (kaliuete.wordpress.com) tulisan “Rata Lolo” degan judul CELAN. Rata Lolo secara harifiah berasal dari Bahasa Fataluku. Rata adalah sebuah cerita dan Lolo adalah menceritakan.

Rata lolo dengan cerita Celan ditulis dalam situs Kaliuete yang kami bangun pada tahun 2009 bersama dengan teman-teman pemerhati masalah budaya yang punah di daerah Lospalos. Dalam narasi Celan, terdapat seorang wanita tua yang menemukan sumber air melalui seekor anjing peliharaannya. Di sebuah desa kecil di Tutuala, kampung Ioro, air sangat sulit bagi masyarakat setempat.

Masyarakat di kampung tersebut biasa berjalan sekitar 9 KM untuk mengambil air di sebuah danau (Suruveilar) disekitar desa Mehara. Namun suatu waktu, seorang wanita tua yang bernama Celan menemukan air di sebuah gua kecil. Ketika air itu ditemukan, pemilik air (dalam kepercayaan orang lokal adalah roh halus) meminta kepada masyarakat setempat untuk mengorbankan seorang wanita.

Kira-kira cerita Celan seperti itu. Untuk lebih mendetail silahkan baca disini https://kaliuete.wordpress.com/2009/05/18/rata-lolo. Penutur dongeng ini adalah almarhum, Manuel dos Santos biasa dipanggil tiu Santos. Rata Lolo Celan adalah salah satu cerita yang identik dengan masyarakat kampung Ioro. Dan ini adalah cerita terakhir yang beliau ceritakan kepada saya untuk direkam dan diterbitkan sebelum dia meninggal pada tahun 2011 karena kecelakaan di dekat Pantai Valu.

Terlepas dari kisah Celan, saya ingin berbagi pengalaman hidup, terutama berkaitan dengan tradisi dongeng Rata Lolo. Pengalaman hidup ketika saya masih berada di kampung halaman, menghabiskan kehidupan masa kecil saya di Tutuala.

Salah satu kebiasaan yang masih melekat di benak saya dan menjadi bagian dari kenikmatan tradisi narasi fiksi adalah dongeng Rata Lolo. Sebagai anak desa, saya dulu tinggal bersama nenek saya, dia adalah sosok yang penuh dengan kasih sayang, selalu menjaga dan merawat saya dan bahkan saya menghabiskan sebagian besar waktu saya dengannya.

Pada saat itu, orang tua saya melakukan kegiatan bertani yang cukup jauh dari desa. Pada masa itu, jika berladang, pemiliknya harus tinggal di sana untuk mengendalikan hewan liar yang sering menghabiskan tanaman. Orang tua saya harus tinggal di sana selama beberapa bulan, dan mereka terus menghabiskan waktu di sana sebagai petani, berladang membanting tulang untuk kelangsungan hidup keluarganya. Berladang adalah cara hidup di kampung, dan memang itulah cara satu-satunya orangtua kita lakukan untuk menopang kehidupan kami dari siklus kelaparan.

Tinggal dengan seorang nenek (biasa dipanggil avo Paula) dari pihak ibu saya, ada banyak cerita dengan momen yang menyenangkan, salah satunya adalah Rata Lolo.  Kebiasaan storytelling ini tentunya menjadi salah satu bentuk cerita fiksi yang saya nikmati sepanjang sejarah hidup tinggal dengan seorang nenek.

Nenek dengan kebiasaan menggambarkan cerita dengan alur cerita yang menarik telah membangun imajinasi fiktif saya sejak masa itu. Menjadi cucunya, saya bangga dan menikmati dongeng-nya saat itu dan sampai sekarang. Dan yang jelas, narasi tentang Rata Lolo sampai sekarang masih dengan samar-samar terkonstruksi dalam pikiran-ku, walaupun aku sudah tidak mampu menghafalnya persis narasi dalam Rata Lolo . Meskipun saya menikmatinya, namun saya tidak tahu dari mana asalnya, kata nenek saya, Rata Lolo telah hadir dalam kehidupan kami sebelum nenek moyang kami datang ke Tutuala dan itu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Tututala.

Rata Lolo adalah sebuah model storytelling yang sangat identik dalam tradisi Lospalos, setiap daerah pasti memiliki cerita yang berbeda, namun yang saya tahu terutama di Tutuala adalah menarik dengan berbagai narasi topik yang berbeda.

Jika anda bertanya kepada seseorang seusia saya (generasi tahun 80-an) dari kecamatan Tutuala, mereka tentunya tidak heran tentang Ratalolo di masa kecil mereka.

Nah, kembali ke nenek saya, menurut dia bahwa kegiatan Ratalolo adalah hal yang sakral; hanya dapat dilakukan pada waktu musim panen atau setelah panen. Kata nenek, dalam sistem tradisional kami, bahwa jika kami mendengar dongeng Rata Lolo, maka secara otomatis tanaman seperti kentang, kacang-kacangan, jagung, dan lainnya akan tumbuh dengan baik. Jadi kehidupan bertani memiliki kaitan mistik dengan kegiatan Ratalolo.

Rata Lolo juga memiliki musim, khususnya pada musim panen, maka itu adalah momen yang baik untuk duduk bersama dengan anak-anak lain, biasanya kami melakukan aktivitas mengupas biji jagung dan kacang-kacangan, dalam bahasa Fataluku dikenal Cele cuku, Uravoi Virahe.

Sebelum mendengar cerita (Ratalolo). Saya biasanya mengundang beberapa teman-teman dekat dari tetangga saya atau saudara-saudari saya. Tentu saja, nenek Paula menyukai-nya, karena kami akan menyelesaikan tumpukan jagung dan kacang yang habis dipanen, kami akan mengelupas-nya sambal menikmati Rata Lolo.

Rata Lolo momen yang tepat adalah dilakukan pada malam hari. Sebelum malam hari tiba untuk berkumpul mendengar cerita nenek saya, biasanya pagi hari saya sudah memberitahu teman-teman saya, mengajak mereka bergabung denganku. “Malam ini nenek saya akan berdongeng tentang seorang lelaki yang sangat kaya dari pulau Leti, ia datang dengan sebuah perahu besar, isinya penuh dengan emas dan perak. Ia datang mencari seorang perempuan cantik, berambut panjang, ibarat bidadari dibagian Timur, yaitu Tutuala” Kataku kepada teman-teman.

Memang ada beberapa cerita lain di Rata Lolo tentang pulau Leti dan Wetar, cerita tentang pulau tersebut sangat identik dengan petualangan, penjelajah, kelas bangsawan, dan peperangan. Dalam beberapa cerita dan literatur mengatakan bahwa di pulau tersebut ada beberapa Klan yang punya hubungan sejarah, bahkan ada beberapa bahasa yang sama dengan Fataluku.

Kembali pada cerita cerita Pulau Leti, alur ceritanya menarik dan tidak pernah membosankan, semua anak-anak selalu senang mendengarnya, mereka datang pada malam itu dan mendengarkan kisah sang penjelajah dari pulau Leti. Apalagi posisi pulau Leti dapat dilihat dengan pandangan mata, dibagian barat daya Tutuala.

Ketika malam hari tiba, anak-anak sudah kumpul dan masing-masing duduk dengan syarat harus dengan keranjang kecil diisi dengan jagung, mereka sambil mengupas jagung dan kacang sambil menikmati cerita dari nenekku. Semua teman-teman senang mendengarkan Rata Lolo, lalu beberapa jam kemudian mereka pergi tidur.

Satu hal yang telah ter-konstruksi dalam benakku adalah kehidupan jaman dulu, kekuatan fiksionisnya membangun imajinasi saya yang sangat luar biasa, seolah-olah itu ada, nyata dan mungkin itu adalah nenek moyang kami. Sampai sekarang, jika saya mengingat Rata Lolo, kadang-kadang ada rasa rindu terhadap nenek saya.

Rasa rindu akan cerita-cerita Rata Lolo, kebiasaan bersama keluarga di waktu kecil membuat saya rindu untuk selalu pergi menghabiskan waktu ke Tutuala, kampung halaman saya. Ketika tiba disana, segara muncul sebuah rasa dejavo, replikasi momen historis. Mengingat masa kecil yang indah dengan cerita yang menarik dari sang nenek di kampung halaman. Sejarah hidup bersama teman-teman waktu masih kecil.

Tutuala adalah kampung yang indah dengan kisah hidup yang unik, imajinatif dan atraktif dengan kultur-nya. Namun identitas dan tradisi storytelling Ratalolo kini telah tiada, telah dimakan oleh modernisasi. Para orang tua sekarang mungkin sudah cape untuk bercerita Rata Lolo, anak-anak mereka dibiarkan untuk berinteraksi dengan cerita-cerita sinetron di Televisi.

Ingin aku marah, ingin berterik sekeras-kerasnya. Kenapa semuanya terjadi?

Kenapa kerakusan teknologi telah masuk kesemua sudut, desa, kampung, gubuk dan barak kehidupan kita.  Teknologi yang tidak bersahabat ini tidak peduli siapakah anda. Kini hanyalah mesin-mesin layar TV yang menjadi sahabat anak-anak sekarang.

Aku ingin kembali ke zaman anak-anak seperti dulu, momen dimana aku masih sempat menikmati cerita-cerita nenekku. Namun kenangan Rata Lolo kini tinggallah menjadi puing-puing imajinasi.

Reflesi: Celso, Palapasu, 26/7/2020

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

2 thoughts on “Matinya Tradisi Rata Lolo di komunitas Tutuala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: