Drama Politik, Agama dan Rasisme: Bungkam dalam kegiatan Amal

Hampir enam bulan sejak pemerintah Timor-Leste mengumumkan negara dalam keadaan darurat (state emergency) pada bulan Mei 2020, negara kecil dengan penduduk 1.3 juta ini ternyata menghadapi masalah sosial dan stabilitas politik yang rumit. Meskipun fokus pada pencegahan COVID-19, pada saat yang sama, pemerintah juga menangani masalah perselisihan politik antar partai politik; Misalnya, ada protes atas distribusi subsidi yang tidak adil dari kelompok garis depan (frontliners), masyarakat miskin, pelajar, dan pengusaha kecil serta kaum marginalisasi (marginalized groups). Terakhir, diantara bulan Mei dan Juni 2020, beberapa konflik politik bergeser ke konflik sosial lainnya.

Di kubu parlemen nasional dan pemerintah sekarang, muncul perdebatan tentang legalitas pemerintah dan parlemen, yang konon dipimpin oleh salah satu partai politik besar, partai   Conselho Nacional de Reconstrução de Timor-CNRT. Sejak awal pembentukan pemerintahan VIII Governu Konstitusionál selama hampir dua tahun lebih, dua partai politik Kmanek Haburas Unidade Timor Oan (KHUNTO), Partidu Libertasaun Popular (PLP) bersama dengan CNRT membentuk pemerintahan konstitusional yang ke-VIII.

Namun pemerintahan tersebut telah runtuh, PLP dan KHUNTO bersama partai Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente (FRETILIN) membentuk koalisi baru. Ketiga partai politik tersebut mengeliminasi CNRT dengan format struktur politik Aliansi mayoritas Palemen-AMP Jilid II dan membentuk kabinet pemerintah dengan perdana menteri yang sama.

Sejak berdirinya pemerintah AMP Jilid II, pertarungan politik terus muncul hingga saat ini. Selain itu, masalah sosial lainnya menjalar ke ranah institusi Kepresidenan. Ada beberapa gerakan masyarakat sipil dan partai oposisi juga mempertanyakan netralitas presiden Timor-Leste yang sebenarnya berasal dari partai politik FRETILIN. Beberapa lawan politik terus-menerus memperdebatkan protes mereka ke Presiden Timor-Leste yang memiliki hubungan erat dengan partai FRETILIN.

Selanjutnya, kelompok tersebut saat ini mengorganisir protes besar yang mereka sebut “kekuatan rakyat” (people power). Sekitar 30 ribu tanda tangan akan dikumpulkan sebagai aksi protes melalui surat petisi kepada Presiden Timor-Leste pada tanggal 28 Agustus 2020. Sesuai dengan informasi dari beberapa media nasional bahwa isi surat petisi adalah untuk meminta presiden Timor-Leste, Lu OLo agar mengundurkan diri karena dianggap “tidak netral, dia adalah aktor dari krisis politik dan melanggar konstitusi Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL)”. Hingga saat ini, publik diam, menanti apakah akan ada aksi protes besar atau ini adalah hanya aksi gertakan kecil kepada presiden Timor-Leste dan juga menunjukan kepada partai politik lainnya bahwa ada eksistensi kelompok oposisi sebagai lawan politik bagi para politikus di pemerintahan saat ini.

Terlepas dari kritik masyarakat kepada presiden, ada perselisihan politik yang sudah sedang terjadi sejak awal tahun 2020 hingga sekarang, khususnya sejak pembentukan pemerintahan baru (VIII Governu Konstitusionál) dengan format AMP Jilid-2. Konflik antara anggota parlemen dan para politikus menjadi bahan tontonan publik ibarat drama dengan layar besar. Salah satu drama politik yang menarik adalah kritik tajam anggota parlemen dari partai KHUNTO dengan pihak pemimpin Gereja Katolik.

Sementara masalah gejolak antara tokoh Gereja Katolik dan anggota parlemen belum selesai, di depan parlemen, tepatnya pada tanggal 17 Juni 2020, ketika berdebat tentang masalah nasib rakyat, tiba-tiba secara terbuka ada aksi pertengkaran antara anggota parlemen dengan menggunakan bahasa yang ofensif dan rasis kepada salah satu anggota parlemen di gedung parlemen nasional Timor-Leste. Semua ini adalah drama politik yang dipertontonkan oleh politikus di pemerintah maupun di gedung parlemen ke publik.

Konflik anggota parlemen dengan pihak Gereja Katolik yang disebutkan diatas adalah mengenai praktik ritual tradisional. Ada praktik aksi sumpah yang dipertontonkan secara virtual di media sosial, dimana publik menyaksikan bahwa cara ritual sumpah itu bertentangan dengan nilai-nilai agama Katolik. Pihak kelompok Gereja Katolik, mengutuk tindakan partai politik yang menggunakan sumpah dengan praktik ritual adalah “ajaran sesat” karena itu melawan hukum dan nilai ajaran agama Katolik. Hal ini dibalas dengan salah satu anggota parlemen dari kubu partai KHUNTO dan pemimpin partai politik dengan nada keras, mereka menyerukan agar para tokoh Gereja Katolik “membuka jubah Pastor” dan datang ke arena politik untuk bermain drama politik.

Masyarakat Timor-Leste (de-facto mayoritas beragama Katolik) di media sosial dan media elektronik dan cetak menyampaikan kritik atas tindakan dari anggota parlemen dari pihak partai KHUNTO yang menyerang pihak gereja. Masyarakt Timor-Leste bersimpati kepada pihak Gereja Katolik.

Tindakan tidak hati-hati dari seorang politikus yang mengkritik, bahkan meremehkan peranan Gereja dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste memicu reaksi besar. Banyak orang Timor-Leste, terutama beberapa aktivis, veteran, organisasi bawah tanah berpendapat bahwa Gereja terus menjalankan misi mereka, yang mereka lakukan di masa lalu sampai sekarang adalah memperjuangkan kepentingan masyarakat dan para pengikut Gereja Katolik atau umat Katolik.

Gereja Katolik telah memberikan kontribusi untuk penentuan nasib sendiri, terutama banyak pejuang gerilya, warga negara Timor-Leste dilindungi dan difasilitasi oleh Gereja Katolik. Dengan gagasan bahwa dalam sejarah keterlibatan pihak Gereja Katolik dalam perjuangan kemerdekaan, itu adalah salah satu realitas dari keterlibatan mereka, oleh karena itu masyarakat menilai partai politik seharusnya menyadari itu dan tidak memberikan kritik terhadap keterlibatan pihak Gereja dalam politik.

Dari pertengkaran anggota parlemen mengenai ekspresi tajam, saling menyerang antara politikus dan tokoh Agama Katolik diakhiri dengan sebuah kata “maaf” sedalam-dalamnya dari partai KHUNTO. Di hadapan publik, di televisi nasional, perwakilan dari Partai Politik tersebut menyampaikan permintaan maaf kepada para tokoh Katolik dan masyarakat Timor-Leste.

Hal yang serupa debat antara anggota parlemen adalah isu rasisme. Di Media Nasonal dan TV yang disiarkan secara live, publik menyaksikan perkelahian dan ekspresi rasisme, kata  “China Pirata”  dalam Bahasa Indonesia China Pembajak keluar dari mulut seorang anggota palemen, ditujukan  kepada salah satu etnis Timor-Tionghoa yang merupakan anggota parlemen nasional dari partai politik oposisi CNRT.

Terlepas dari semua perdebatan politik tersebut, aksi pertengkaran dan ekspresi rasisme oleh politikus dan perdebatkan antara tokoh Agama Katolik dan parpol telah berakhir dalam keheningan. Namun aksi solidaritas dari partai politik KHUNTO mulai muncul di publik dengan melakukan kegiatan amal, memberikan bantuan finansial kepada pihak Gereja Katolik, dan beberapa model amal serupa dilakukan pada saat ini.

Dalam enam bulan terakhir, publik sedang menyaksikan konflik antara partai politik. Permainan drama yang dimainkan tentunya sangat normal dalam dunia politik namun aksi pertengkaran yang tidak mendidik seperti munculnya ekspresi “rasisme”. Di situ sisi menjadi bahan penilaian publik tentang ketidak kemapanan seorang politikus dari partai politik. Disisi lain, kritik saling melawan antara pihak gereja Katolik dengan partai politik juga menjadi tolak ukur bahwa para politikus harus dengan hati-hati menjaga atau mengontrol emosi, apalagi menyerang pihak Gereja yang dianggap sangat berkontribusi bagi kemerdekaan Timor-Leste.

Menyerang pihak Gereja justru memicu adanya simpati dari masyarakat, dan hal ini akan membawa rasa solidaritas besar yang akhirnya bisa menjatuhkan pamor (prestige) partai politik KHUNTO yang mengkritik-nya. Dan hal lain yang kita saksikan, walaupun dari pihak partai KHUNTO dengan secara terbuka meminta maaf dan mulai melakukan aktivitas amal, bantuan finansial dan sembako kepada pihak Gereja dan sebagian masyarakat, mungkin itu adalah langkah baik untuk mengakurkan hubungan kedua belah pihak, namun jangan sampai itu hanyalah sebatas retorika politik dengan tujuan mengembalikan nama baik partai politik di mata publik.

Akhirnya mungkin di benak kita timbul rasa penasaran, ada apa dibalik kegiatan amal ini, kita tunggu jawaban yang tepat nanti. Drama apa yang akan muncul setelah enam bulan kedepan?

Opini pribadi: Celso, 16/8/2020

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: