Paradoks implementasi program Cesta Básica: Apa manfaatnya bagi kita?

Keranjang sembako (Cesta Básica) merupakan konsep baru subsidi pangan yang diberikan pemerintah kepada warga negaranya. Gagasan di balik kebijakan ini adalah membantu kelompok rentan dan marjinal dengan beberapa item makanan pokok. Ini adalah bagian dari paket pemulihan ekonomi COVID-19 untuk masyarakat pribumi(indiginious), keluarga berpenghasilan rendah, anggota keluarga besar, penyandang distabilitas.

Program yang diterapkan di Timor-Leste ini meniru konsep lama negara Brasil. Selama hampir tiga dekade sejak 1989, lebih dari 30 juta warga Brasil telah menerima subsidi semacam ini, hal ini sebagai bantuan subsidi bagi kaum rentan untuk mengakses makanan dasar (basic food) dan mempromosikan “zero-hunger” bagi keluarga paling rentan dan yang berpenghasilan rendah.

Ide dasar dari konsep sesta bazika, yang telah diadopsi di Timor-Leste melalui Undang-Undang no 48/2020 tentang program “Keranjang Dasar” adalah untuk menjamin bahwa semua keluarga Timor-Leste per rumah tangga akan mendapatkan keuntungan dari subsidi makanan selama krisis kesehatan dari penyakit pandemi dunia yang kini melanda negara kecil ini dengan jumlah penduduk 1.5 juta jiwa.

Ide subsidi ini sama persis seperti di Brazil, untuk menjamin bahwa masyarakat yang rentan tetap mendapatkan makanan, setidaknya tiga kali makan sehari dari sembako yang disediakan oleh pemerintah dengan 12 paket makanan di dalam keranjang. Program ini akan dilaksanakan selama dua bulan, mulai November hingga Desember. Dengan hadinya program ini, sudah jelas bahwa pemerintah memiliki nia baik untuk membantu keluarga rentan yang terkena dampak COVID-19 ditengah negara keadaan darurat sejak Timor-Leste mengumumkan kasus COVID-19 pertamanya pada April 2020.

Sejak diperlakukannya sesta basica pada November 2020, separuh penduduk sudah memiliki akses terhadap program ini, termasuk beberapa kawasan kumuh lainnya di Dili yang sudah memiliki akses langsung ke subsidi pangan ini. Beberapa kabupaten lain saat ini mendapatkan subsidi ini, dan yang lain sedang menunggu paket bantuan makanan ini.

Meskipun subsidi ini ditujukan untuk membantu masyarakat rentan sebagai paket pemulihan ekonomi, namun justru menimbulkan paradoks karena pelaksanaan program ini dianggap hanya menguntungkan bagi aparatur pemerintah, perusahaan swasta yang menyediakan pangan bahkan ada beberapa makanan seperti kacang yang telah busuk namun masih tetap didistribusikan kepada masyarakat. Selain itu juga menimbulkan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penegak hukum (Polisi). Kasus ini berhubungan dengan pembakaran produk sesta bazika di kabupaten Viqueque dan polisi melakukan penganiayaan kepada pelaku.

Sebelum beralih ke masalah implementasi program ini, perlu bagi kita untuk melihat apa saja keuntungan dari sesta basica. Menurut kementerian MTCI (Kementrian Pariwisata dan Industri Komersial) yang memimpin program ini, membantu keluarga miskin, masyarakat rentan, dan penyandang distabilitas termasuk masyarakat yang berpenghasilan rendah untuk menjamin bahwa dalam waktu dua bulan mereka bisa mendapatkan makanan yang cukup untuk dimakan. Di sisi lain, program ini juga akan mendorong stimulasi pasar untuk “membeli pangan lokal” yang diproduksi oleh petani lokal, penciptaan lapangan kerja, dukungan untuk wirausaha, inovasi, swasta, komunitas dan inisiatif koperasi. Dari sudut pandang ini, peredaran ekonomi akan lebih menguntungkan masyarakat di pedesaan. Selain itu, juga membantu mempromosikan “zero plastic” yang idealnya merupakan bagian dari target kebijakan pemerintah pada saat ini untuk mempromosikan perbaikan lingkungan hidup.

Semua bahan pangan tersebut dikemas dengan menggunakan keranjang tradisional dari material lokal dengan konsep ramah lingkungan (walaupun isinya masih menggunakan kemasan plastik) namun intinya adalah keranjang yang diproduksi oleh kelompok tani kerajinan lokal dianggap sebagai value added dari program ini. Sembako yang disediakan dalam keranjang berisi 12 jenis makanan: Beras, Susu, Garam, Gula, Sampo, dll.

Jumlah item dengan 12 jenis sembako dengan nilai harga 25 USD per paket. Namun, pada kenyataannya, beberapa makanan yang dibeli oleh pemerintah dan perusahaan swasta didasarkan pada harga yang tidak rasional atau normal. Misalnya, minyak goreng 5 KG, harga normal di pasar adalah 2-4 $, namun kenyataannya harga minyak adalah $ 8. Gula dan kopi, yang misalkan harganya lebih murah tapi malah lebih mahal masuk daftar harga sembako dari 12 item tersebut.

Kenyataan ini membuat masyarakat bereaksi terhadap sembako yang disediakan oleh pemerintah, seperti yang di posting di Facebook oleh beberapa warga-net. Mereka mengaku tidak senang dengan jenis makanan yang menggunakan anggaran negara dan memanipulasi harga yang kontroversial dengan harga normal. Namun ironis-nya, pemerintah membeli barang ini dengan harga tinggi dan mendistribusikan-nya kepada warga yang seolah-olah masyarakat buta akan harga yang setiap hari mereka sudah hafal diluar kepala.

Secara keseluruhan sebagaimana disebutkan di sini, gagasan “sesta basica” dari pemerintah merupakan kebijakan yang baik untuk mempertahankan akses pangan warganya selama masa krisis di tengah wabah COVID-19 dan keadaan negara dalam keadaan darurat, namun program ini juga dianggap sebagai peluang bagi para kelompok berkepentingan untuk mendapatkan keuntungan, serta program ini menciptakan paradoks pembagian kepada masyarakat dan bahan pangan dalam keranjang yang didistribusikan.

Selain itu juga, program ini merupakan salah satu produk kebijakan pemerintah dari piramida komando baik dalam kebijakan maupun distribusi. Konsep sentralistis ini membuat aparat pemerintah mengerahkan dukungan logistik seperti kendaraan, aparatur pemerintah pusat untuk mendistribusikan ke setiap pelosok desa, kecamatan dan kabupaten bahkan di daerah terpencil yang sulit di jangkau. Tentunya kondisi ini membutuhkan dana ekstra untuk memobilisasi distribusi, menyewa mobil, menyewa perusahaan atau instansi swasta untuk mengemas, mendistribusikan. Dari fenomena tersebut sangat jelas terlihat bahwa selain niat baik pemerintah melalui subsidi sembako, dampak buruk program ini sebenarnya tidak memberikan manfaat apapun, bahkan menimbulkan ketimpangan, protes, kemarahan dari masyarakat tentang tidak efektif-nya program ini.

Pemerintah harus memahami bahwa bantuan yang menggunakan mobilisasi dan anggaran logistik menciptakan banyak ketimpangan. Dalam hal efektivitas biaya dan waktu, ada banyak kerugian. Mungkin alternatif lain adalah transfer tunai melalui bank lokal, atau sistem pengiriman uang cepat, program transfer uang dari perusahaan telekomunikasi (Telemor) dengan program MOSAN, atau program lain yang dianggap lebih efektif.

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: