Topu Honis, Misteri Pedofilia Terungkap: Apa yang kita pelajari dari kasus ini?

Dalam beberapa bulan terakhir, topik yang sedang hangat dimata masyarakat Timor-Leste adalah sebuah tragedi kejahatan kemanusiaan, kasus pedofilia. Kasus kejahatan seksual yang terselubung dalam misi kemuliaan manusia di sebuah dusun kecil di area Oekuse, Timor-Leste, di sebuah gubuk yatim piatu bernama Topu Honis.

Kasus Topu Honis merupakan isu menarik, bukan hanya karena kasus ini diviralkan di media sosial, namun kasus (pedofilia) kejahatan seksual terhadap anak-anak terjadi dalam institusi keagamaan yang terselubung selama beberapa tahun. Yang menarik adalah, kasus ini (diduga) dilakukan oleh salah seorang Pastor yang pada saat ini sudah dipecat (mantan pastor dari salah satu kongregasi terbesar di Timor-Leste). Kehadiran kasus ini membuat masyarakat Timor-Leste mulai membuka mata melihat kejahatan seperti ini mendobrak logika berpikir rasional. Mungkin dengan sebuah pertanyaan, kok bisa terjadi pedofelia selama ini, dan hidup terselubung ditengah masyarakat khususnya dalam institusi keagamaan yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Walaupun kasus ini masih dalam proses penyidikan, baik masih mencari alat bukti formil dari pihak korban apakah pelaku terbukti salah atau tidak. Dan mungkin kita juga harus menghormati asas pra-duga tak bersalah. Namun terlepas dari prinsip ini, sesuai dengan data dan informasi yang disampaikan dari salah satu korban, dan bukti pemecatan pelaku oleh Paus di Vatikan  terkait dengan kasus kejahatan seksual ini. Jelas sekali memperkuat argumen publik di media sosial bahwa bukti ini dapat ditarik sebagai landasan dugaan kejahatan seksual oleh seorang eks-pastor yang terjadi dalam sebuah misi kemanusiaan, di institusi yatim piatu selama beberapa tahun silam di Oekuse (sebuah daerah kantong, Timor-Leste. yang berbatasan dengan Indonesia).

Terlepas dari perdebatan sengit di mata publik dan banyaknya observasi yang dilakukan terhadap kasus Topu Honus yang masih dalam proses persidangan, tulisan ini berupaya untuk mengulas secara singkat kejadian kejahatan seksual serupa yang terjadi di negara lain dan hal ini tentunya menjadi referensi bagi kita di Timor- Leste untuk berpikir lebih rasional, terbuka dan kritis terhadap kejadian seperti ini dan mungkin kita akan mencari solusi antisipatif yang lebih baik.

Kasus kejahatan seks yang dilakukan oleh (pastor, frater, bruder, dsb) memang jarang terjadi di Timor-Leste, walaupun ada, tetapi jumlahnya sangat sedikit yang terungkap di negara kecil yang baru merdeka pada dua dekade lalu. Ketika menjadi sebuah bangsa yang bermartabat dan diakui sebagai sebuah negara demokratik dengan nama (Republik Demokratik Timor-Leste-RDTL), masyarakat Timor-Leste juga mulai membuka diri, mengadopsi berbagai bentuk norma, aturan, prinsip-prinsip umum tentang pembelaan martabat manusia yang tercantum dalam konstitusi RDTL mapun juga instrumen hukum internasional lainnya. Pada waktu yang bersamaan, muncul juga para pembela hak asasi manusia, aktivis, kelompok LSM, organisasi internasional dan pemerintah serta organisasi keagamaan mempromosikan hak fundamental masyarakat di Timor-Leste, salah satunya adalah hak anak perempuan maupun juga bagaimana melindungi mereka dari berbagai bentuk kejahatan, khususnya  kejahatan seksual.

Kembali pada topik dari tulisan ini, jika kita melihat kasus “Topu Honus”, ini adalah salah satu kasus yang mungkin dianggap mustahil untuk dihadirkan ke publik. Dimana kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur dilakukan oleh seorang eks pastor dari institusi gereja mungkin saja menjadi isu kontroversi antara yang pro dan kontra.

Walaupun kasus ini memicu ide kontroversi dari berbagai pihak, baik itu karena kasus ini masih dalam proses penyelidikan apakah benar seorang mantan pastor bernama inisial RD (yang dalam tanda kutip belum dianggap bersalah) atau dengan menghargai prinsip pra-duga tak bersalah kita belum berani men-judge pelaku. Dan saat ini proses untuk membuktikan dan mencari keadilan di hadapan hukum masih berjalan, namun kejadian ini memang membuat banyak spekulasi publik, khususnya “judgment” buruk tentang tingkah laku si pelaku yang tidak bermoral.

Konon dalam kehidupan bermasyarakat Timor-Leste yang mayoritas beragama Katolik, yang mana gereja Katolik adalah pelindung masyarakat, apalagi berperan sebagai ikon pembela hak asasi manusia, terutama bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. Namun apa reaksi masyarakat tentang Topu Honus, hal ini benar-benar menjadi sebuah pertanyaan misteri bagi publik di Timor-Leste? Atau ini dianggap hal biasa, karena dilakukan oleh seorang oknum yang kewarganegaraan asing, atau ada motif kepentingan lainnya?

Terlepas dari penilaian publik dan motivasi yang terselubung, jika kita melihat lebih luas, di tingkat global, jumlah kasus kejahatan seksual yang telah terjadi dan yang dilakukan oleh individu-individu dari institusi gereja Katolik tidaklah sedikit. Misalkan hal ini mulai terungkap ketika “kredit film Spotlight, yang diputar pada tahun 2015″ mengungkap kejahatan seksual di Keuskupan Boston, AS, berkenaan dengan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur oleh beberapa individu di hierarki pengurusan agama Katolik setempat. Dan dari sana, kasus-kasus yang tadinya tersembunyi mulai bermunculan, misalnya menurut data global, kurang lebih kasus serupa terjadi di 206 kota di dunia. Dan menurut laporan yang dikumpulkan bahwa kasus seperti ini jumlahnya besar namun belum terdeteksi semuanya.

Di negara-negara eropa, terdapat banyak kasus kejahatan seksual. Misalnya, pada tahun 2010 kasus kejahatan seksual yang jumlahnya kurang lebihi 300 kasus mulai terungkap di Jerman.  Di Italia, 67 mantan siswa sekolah menyebutkan bahwa 24 pelaku terdiri dari imam, bruder, dan religius awam yang mereka tuduh melakukan pelecehan seksual, pedofilia, dan hukuman fisik. Di Belanda, dari tahun 1950-1970 ada sekitar 200 kasus yang dilakukan oleh para pastor dan frater terhadap kejahatan seksual anak. Hal yang sama ditemukan di Austria, di mana ada sekitar 16 orang yang melaporkan 27 dugaan insiden di sana, dalam kurun waktu setengah abad. Di Kanada, pada 1980-an puluhan ribu anak di bawah umur mengalami pelecehan fisik dan seksual di asrama. Dan ini sudah terjadi sejak 1850 hingga 1996.

Memang, banyak kasus kejahatan seksual yang disembunyikan dan diakui oleh Komite PBB tentang Hak Anak. Misalkan dalam laporan komite PBB untuk hak anak, terdapat kasus kejahatan seksual terhadap kaum anak-anak perempuan dan oleh karena itu, hal ini sudah direkomendasikan kepada Takhta Suci Vatikan untuk menyelidiki dan melakukan intervensi dan komite sendiri meminta agar Vatikan tidak boleh “menyembunyikan kejahatan mereka” dan membuka diri agar komite PBB memiliki akses kejahatan seksual yang selama ini tersembunyi.

Terlepas dari kasus-kasus yang terjadi di tataran internasional, kasus Topu Honus yang terjadi di Timor-Leste memiliki indikasi yang sama seperti di negara lain. Mungkin banyak masyarakat Timor Leste yang menganggap kasus seperti ini jarang terjadi dan meskipun dilakukan oleh para pastor atau imam, mereka yang terlibat adalah oknum-oknum tertentu yang melakukannya, namun persepsi atau cara berpikir kita yang mungkin kurang terbuka terhadap kenyataan seperti ini (kejahatan seksual) menjadi tantangan bagi kita untuk berani menantang segala bentuk kejahatan seksual yang terjadi pada anak-anak kita.

Selain menjadi pelajaran pahit yang kita petik dari kisah ini (Topu Honus), pada saat ini, masyarakat Timor-Leste, baik itu individu, pembela HAM, aktivis, organisasi internasional, LSM lokal atau kelompok media, mari kita bersatu untuk membongkar kejahatan konvensional yang mungkin terselubung di beberapa lembaga keagamaan yang selama ini kita tidak bisa akses. Walaupun itu terjadi pada oknum tertentu, tetapi bagi kita, ini adalah momen yang tepat untuk ber-kolaborasi dengan pihak institusi agama agar mereka lebih transparan dan accountable tentang program dan misi yang mereka jalankan. Mereka perlu melibatkan kita untuk melakukan check and balance tentang program yang menyangkut pendidikan bagi anak-anak, khususnya di panti asuhan, asrama atau tempat-tempat serupa yang menjadikan anak-anak atau kaum rentan sebagai target program mereka. Mungkin dengan cara seperti ini, kontrol sosial tentang segala bentuk kejahatan manusia, khususnya pada anak-anak yang terjadi di institusi keagamaan sesuai dengan data dan laporan yang telah dipublikasikan di beberapa negara barat.

Tulisan ini tidak mendiskreditkan agama apapun, khususnya misi agama Katolik, namun tujuannya adalah untuk memberikan gambaran perbandingan singkat tentang kasus pedofelia yang sudah sedang terjadi di negara lain, yang salah satunya terjadi di dalam institusi agama Katolik oleh oknum tertentu. Momen ini adalah waktu yang tepat bagi kita, masyarakat Timor-Leste untuk mulai lebih peka, sadar akan kejahatan seksual yang terjadi dengan berbagai bentuk terselubung, termasuk bisa terjadi didalam lembaga yang dipercaya menjadi ikon pro-rakyat miskin. Mari kita bersatu melawan kejahatan kemanusiaan, kejahatan seksual terhadap kaum rentan, kaum anak-anak perempuan hanya dapat dilakukan dengan cara kolektif dengan prinsip transparan dan akuntabel.

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: