Nikmati kopi aroma hibrida organik Timor yang akan terkikis oleh peradaban waktu .

Kali ini saya ingin menulis lagi tentang kopi. Entah mengapa ide menulis kopi muncul di benakku? Mungkin karena minggu ini, saat menikmati khasiat, aroma dan keunikan rasa kopi sudah mengubah kebiasaan tidur-ku di beberapa hari belakangan ini. Dengan secangkir kopi, hingga tengah malam tetap stand by ditemani dengan laptop-ku .

Memang dalam kegiatan sehari-hari saya, terutama di pagi dan sore hari, kopi adalah salah satu ciri khas penopang refleksi otak untuk berpikir imajinatif, terutama ketika ada beberapa kawan di sekitarku, tentu saja hal yang pertama saya lakukan adalah menawarkan secangkir kopi kepada mereka. Terus  kami memulai obrolan ringan sampai beberapa jam. Mereka hanya bisa pulang, tergantung kapan cangkir kopinya dikosongkan. Bagaimanapun, itu adalah tradisi yang paling umum di Timor-Leste, keluarga sehari-hari di rumah mereka tentu saja minum kopi, begitu pula ketika seorang pengunjung datang ke rumah suatu keluarga, kopi adalah hal pertama yang ditawarkan.

Memang, di Timor-Leste tradisi minum kopi sudah ada sejak lama. Keistimewaan kopi yang disebut sebagai, hibrida Arabika dan Robusta atau dikenal dengan (Timor Hybrid) memiliki rasa yang berbeda, mulai dari sejarah masuknya kopi pada tahun 1860 yang diperkenalkan oleh bangsa Portugis hingga ciri khas kopi Timor yang diperkenalkan ke seluruh dunia. Meskipun kopi Timor dikenal dengan julukan kafe hibrida organiku Timor dan terkenal secara global dengan aroma natural-nya, kopi ini unik bagi penikmat dan pecinta kopi.

Kopi Timor umumnya dikembangkan oleh masyarakat, petani di Gleno dan Letefoho. Lokasi tersebut adalah daerah perkebunan kopi yang paling terkenal di distrik Ermera. Daerah tersebut memiliki iklim yang bagus, di mana Kopi ditanam di dataran tinggi dan itu berada didaerah Ermera. Selain daerah Ermera sebagai penghasil kopi terbesar, juga terdapat beberapa kabupaten lain seperti Ainaro, Maubisse, Aileu, Manufahi, Liquica dan Bobonaro yang memiliki tanaman kopi.

Meskipun negara ini memiliki kopi sebagai komoditas ekspor terbesar dengan kopi yang menyumbang 24% dari perekonomian Timor Leste, kopi yang dihasilkan sangat bergantung pada ekspor ke pasar luar negeri dengan mengandalkan produk organik (biji kopi).

Tulisan singkat ini mengajak kita untuk merenungkan kembali, dulu para petani yang bekerja di perkebunan kopi, tentunya memiliki pendapatan yang lumayan lebih dari cukup, karena produk merupakan salah satu komoditas ekspor terbesar sehingga laku di pasar lokal.

Untuk menopang kehidupan sehari-hari, masyarakat, khususnya petani di Ermera mengandalkan kerja keras dari produk tanaman kopi. Konon, jika seseorang memiliki satu hektar kopi, namun tidak cukup untuk dijadikan komoditas utama untuk bertahan hidup. Alasannya adalah, di beberapa tahun terakhir ini, di era situasi ekonomi yang semakin buruk, mengalami inflasi hampir rata-rata 1 persen per-tahun, sedangkan harga biji kopi dengan jumlah sekitar $0,25 USD per-kg (menurut informasi dari salah satu petani lokal), bahwa harga kopi per-kg seperti ini dianggap tidak mencukupi kebutuhan pokok.

Ada satu hal yang cukup menarik, membuat saya terkejut ketika bertemu dengan salah satu sesama orang Timor dari distrik Ermera. Kebetulan pada saat ini dia membantu membangun pondasi rumah saya di sudut lereng bukit di Dili. Minggu ini di akhir pekan, di pagi hari sebelum mereka mulai bekerja, saya menawarkan secangkir kopi dan mulai ngobrol sedikit dengan dia. Obrolan singkat kami adalah tentang kopi, bagaimana orang mengolahnya, dan juga saya penasaran untuk bertanya tentang tradisi minum kopi di tempat itu, karena di Ermera terkenal dengan “minum kopi tanpa gula” dalam bahasa Tetum biasanya orang bilang; Ami ema Ermera hemu Kafe morus la tau masin midar.

Kemudian percakapan kami beralih ke kondisi kehidupan masyarakat di tempat itu. Saya penasaran ingin bertanya tentang kondisi perkebunan kopi di Ermera dan bagaimana kopi dapat menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada produk kopi. Kata dia “yang biasa dipanggil Ajo, di Ermera, misalkan salah satu keluarga memiliki 2 atau 3 hektar lahan kopi, sebagian orang mungkin mengira pemiliknya pasti kaya, namun persepsi itu keliru.

 Saya sangat kaget mendengar cerita Ajo, kata dia, saat ini harga kopi satu hektar bisa ditukar dengan HP Samsung; sambil bercanda dia mengatakan para petani tidak punya harapan, menggantungkan hidup mereka dengan penghasilan hanya dari kopi, karena harga kopi sangat murah walaupun produk kopi itu sangat penting dan diperlukan dalam tradisi masyarakat sosial Timor-Leste.

Kata Ajo, banyak anak muda seumuran dengan dia, mereka tidak lagi tertarik dengan tradisi klasik, berkebun di perkebunan kopi. Saat ini beberapa perkebunan kopi digarap oleh para orang tua yang merawatnya, banyak anak muda yang datang ke kota Dili dan mencari nafkah hidup daripada tinggal di Ermera, tergantung dari pendapatan kopi yang tidak terlalu menjanjikan.

Ketika tulisan ini diterbitkan, di sebelah komputer saya ada secangkir kopi. Saya menikmati aroma hibirda kafe Timor, hasil produksi para petani Timor-Leste dari Ermera yang bekerja keras membudidayakan kopi Timor organik ini. Saya bisa membayangkan bagaimana kontribusi mereka dengan kerja kerasnya, dedikasi semangat mereka yang begitu luar biasa, melestarikan kopi Timor agar tetap menjadi alami dan nikmat, luar biasa dengan aromanya.

Tetapi sayangnya, sambil menikmati secangkir kopi disamping ku, rasa khawatir dan sedih tentang masa depan kopi organik Timor muncul didalam benakku. Sambil berimajinasi, apakah suatu saat generasi berikutnya akan menikmati kopi organik Timor-Leste seperti saya, atau perjalanan hidup generasi berikutnya akan berubah dengan cerita yang berbeda, jika para petani kopi tidak ada yang tertarik lagi untuk mengolah dan melestarikan kafe hibrida Timor, lantas apakah kebiasaan minum kafé Timor masih tetap akan dilestarikan atau perlahan-lahan akan menyusut dan punah.

Bagaimanapun juga, sambil nikmati kopi anda, saya mengajak teman-teman yang sedang membaca tulisan pendek ini, luangkan beberapa menit untuk merenungkan bagaimana menghidupkan kembali tradisi kopi, membudidayakan kopi Timor untuk tetap eksis selamanya. Mari kita nikmati kopi sambil berpikir ke depan, jika suatu nanti tidak ada lagi kopi hibrida, seperti apa situasi di masa mereka (generasi berikutnya), hidup tanpa menikmati kafe organiku Timor dari tangan para petani lokal persis, seperti yang kita nikmati pada saat ini?

Published by Celso Da Fonseca

I'm just a dreamer who enjoys my freedom. Freethinker, free writer, and free dream.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: